Dulu taman hati itu,
Suram tanpa cahaya,
Gelap tiada warna,
Tidak indah pada pandangan mata,
Langsung tidak menggamit jiwa.
Namun tanpa diduga,
Hujan turun tiba-tiba,
Turunnya tanpa dipinta,
turun tanpa berita dan tanda.
Hakikatnya,
Hujan merupakan berita gembira,
Biarpun datang badai sekali sekala,
Namun indahnya ternyata tiada tara.
Hujan itulah yang membawa cahaya,
Hujan itulah yang menambah ceria,
Hujan itulah yang menggamit mata,
Hujan itulah yang menggoda jiwa.
Sayangnya,
Hujan bukan untuk selamanya,
Turunnya untuk sementara,
Akhirnya kan pergi jua.
Hujan itu mulai surut,
Perlahan-lahan berhenti.
Sesudah hujan,
Tiada lagi yang tinggal,
Kecuali pelangi petang,
Yang cuma untuk dikenang.
Suram tanpa cahaya,
Gelap tiada warna,
Tidak indah pada pandangan mata,
Langsung tidak menggamit jiwa.
Namun tanpa diduga,
Hujan turun tiba-tiba,
Turunnya tanpa dipinta,
turun tanpa berita dan tanda.
Hakikatnya,
Hujan merupakan berita gembira,
Biarpun datang badai sekali sekala,
Namun indahnya ternyata tiada tara.
Hujan itulah yang membawa cahaya,
Hujan itulah yang menambah ceria,
Hujan itulah yang menggamit mata,
Hujan itulah yang menggoda jiwa.
Sayangnya,
Hujan bukan untuk selamanya,
Turunnya untuk sementara,
Akhirnya kan pergi jua.
Hujan itu mulai surut,
Perlahan-lahan berhenti.
Sesudah hujan,
Tiada lagi yang tinggal,
Kecuali pelangi petang,
Yang cuma untuk dikenang.
comel puisi nie..
ReplyDelete