November 16, 2010

Dari Kisah seorang Nabi

Sesungguhnya Aidil Adha atau hari raya Qurban, membawa kita mengenang kembali kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam , Siti Hajar bersama puteranya Ismail, kisah kepatuhan, ketaatan, pengorbanan dan kesabaran mereka dalam menjunjung perintah Allah SWT apabila Nabi Ibrahim diarahkan untuk menyembelih anak kesayangannya Ismail Keagungan pribadinya membuat kita bahkan Nabi Muhammad saw harus mampu mengambil pelajaran dan keteladanan darinya, Allah swt berfirman:

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia
(QS Al Mumtahanah [60]:4).

Dalam kehidupan Nabi Ibrahim as, Nabi Muhammad saw dan para Nabi lainnya, paling tidak ada tiga hal yang harus kita teladani dari sekian banyak hal yang harus kita contoh.

Komitmen yang begitu kuat kepada Allah swt

Pertama adalah komitmen yang begitu kuat kepada Allah swt yang kemudian melahirkan ketaatan. Ketika Nabi Ibrahim as diperintah Allah swt untuk menempatkan isterinya Siti Hajar dan anaknya Ismail ke Bakkah (Makkah), meskipun sangat berat harus berpisah dan menempatkannya di daerah yang belum ada kehidupan, tapi Nabi Ibrahim melaksanakannya.

Begitu pula dengan perintah menyembelih Ismail yang lebih berat lagi, tapi itupun dilaksanakannya karena komitmen yang begitu kuat kepada Allah swt, bahkan Ismail as menunjukkan komitmen ketaatan yang sangat kuat seperti yang tercermin dalam firman Allah swt:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.(QS Ash Shaffat [37]:102).



Oleh karena itu, mengambil pelajaran dari kehidupan Nabi Ibrahim as dan keluarganya, setiap kita sangat dituntut untuk mau mentaati segala ketentuan yang datang dari Allah swt, suka atau tidak suka, berat atau tingan sebagaimana firman-Nya:

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allahdan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung (QS An Nur [24]:51).

Komitmen yang kuat ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as sejak masih muda sampai tua, bahkan sampai wafat.

Ini boleh kita ambil kesimpulan dari kisah tentang menghancurkan berhala yang dilakukan Ibrahim saat ia masih muda belia dan bandingkan dengan pelaksanaan perintah menyembelih Ismail yang sudah tua. Kenyataan menunjukkan banyak orang tidak baik pada usia muda dan baru baik pada usia tua, ini cukup baik, ada pula yang sejak muda sampai tua dalam keadaan tidak baik, ini buruk dan yang sangat tragis adalah saat muda ia baik, memiliki idealisme yang kuat namun saat tua ia justeru melepaskan nilai-nilai idealisme yang dulu diperjuangkannya, apalagi hanya dengan alasan mencari simpati dan dukungan banyak orang dan ia tidak peduli dengan murka Allah swt.

Tidak kompromi kepada syaitan dengan segala nilai-nilai kebatilan

Kedua, pelajaran yang kita ambil dari kehidupan Nabi Ibrahim dan keluarganya adalah tidak kompromi kepada syaitan dengan segala nilai-nilai kebatilan yang dihembuskan dan diajarkannya. Karena itu godaan syaitan harus dihalau dan tidak dituruti, bahkan syaitan harus kita jadikan sebagai musuh abadi yang selalu diwaspadai setiap saat dan tempat, karena itu dalam ibadah haji ada kewajiban melontar yang melambangkan permusuhan kepada syaitan, Allah swt berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al Baqarah [2]:208).

Disamping itu, seruan Allah swt untuk memperlakukan syaitan sebagai musuh tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman, tapi juga kepada seluruh umat manusia, karena ada keperluan manusia yang harus dipenuhinya dan itu tidak boleh menghalalkan segala cara dalam usaha untuk mencapainya.



Meskipun manusia tidak beriman kepada Allah swt atau tidak menjadi muslim, dalam usaha memenuhi keperluan hidupnya, walau pun mereka yang tidak beriman kepada Allah namum tidak membenarkan matlamat menghalalkan segala cara,
Allah swt berfirman:

Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS Al Baqarah [2]:168).

Seharusnya manusia menjadikan syaitan sebagai musuh dalam kehidupan mereka kerana manusia sangat memerlukan kedamaian hidup, sedangkan syaitan selalu menanamkan perselisihan, permusuhan ke dalam jiwa manusia hingga akhirnya terjadi peperangan; tidak hanya dengan kata-kata tapi juga perang secara fizikal dengan korban harta dan jiwa yang banyak serta membawa kesan keatas jiwa yang negatif, dan ini sebenarnya tidak dikehendaki oleh manusia, Allah swt berfirman:

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi manusia (QS Al Isra [17]:53).

Seorang muslim yang sebenar hendaklah sentiasa bertakwa kepada Allah SWT dan mematuhi prinsip-prinsip keadilan sesama manusia. Bahkan berlaku adil sesama manusia walaupun dari golongan yang tidak sehaluan adalah merupakan syarat-syarat ketaqwaan yang sempurna. Kebelakangan ini kita menyaksikan bagaimana wujudnya pihak-pihak yang sewenang-wenangnya bertindak untuk melanggar perjanjian sematamata kerana tidak mahu memberikan keuntungan kepada pihak yang tidak disenangi. Hasil mahsul bumi diangkut sewenang-wenangnya tanpa sebarang faedah kepada penduduk setempat sekalipun sudah wujud perjanjian yang jelas.

Oleh karena itu, dalam suasana dan keadaan yang sukar sekalipun, hal itu tidak boleh membuat kita menjadikannya sebagai alasan untuk menghalalkan segala cara, sedangkan bagi yang mengalami kesenangan hidup tidak akan sampai lupa diri, susah dihadapi dengan kesabaran dan senang dijalani dengan rasa syukur kepada Allah swt, inilah yang membuat seorang mukmin menjadi pribadi yang mengkagumkan,

Rasulullah saw bersabda:

Menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya semua urusannya baik baginya dan tidak ada yang demikian itu bagi seseorang selain bagi seorang mukmin. Kalau ia memperoleh kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya. Kalau ia ditimpa kesusahan, ia sabar dan itu baik baginya (HR. Ahmad dan Muslim).

Kelangsungan penanaman dan penyebaran nilai-nilai Islam
.

Pelajaran dari Nabi Ibrahim yang Ketiga adalah kelangsungan penanaman dan penyebaran nilai-nilai Islam. Pada diri Nabi Ibrahim as terdapat kekhawatiran yang sangat dalam bila tidak ada generasi baru yang akan melanjutkan keberlangsungan penanaman dan penyebaran nilai-nilai yang datang dari Allah swt., karena itu ia amat mengharapkan kehadiran anak, tidak semata-mata untuk meyambung keturunan apalagi sekadar mewariskan harta tapi yang terpenting adalah anak yang boleh menyambung misi perjuangan, karenanya ketika usianya semakin tua kekhawatiran itu semakin dalam yang membuatnya ia berkahwin lagi dengan Siti Hajar sehingga lahirlah anak yang diberi nama dengan Ismail, bahkan dari Siti Sarah yang merupakan isteri pertama yang sudah tua lahir pula anak yang diberi nama dengan Ishak, karenanya Nabi Ibrahim amat bersyukur atas karunia Allah swt sehingga dalam do’anya ia menyatakan:

Segala puji bagi Allah yang Telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku
.(QS Ibrahim [14]:39-40)

Oleh karena itu, setiap kita berkewajipan untuk melaksanakan tugas-tugas dakwah, dakwah dalam arti yang luas yakni mengajak, menyeru dan memanggil manusia untuk beriman dan taat kepada Allah swt dengan berbagai cara yang baik. Tugas ini merupakan tugas yang penting dan mulia karena melanjutkan tugas para nabi, tugas yang amat dibutuhkan oleh manusia, karena orang baik membutuhkan dakwah apalagi orang yang belum baik. Namun untuk melaksanakannya amat memerlukan pengorbanan waktu, tenaga, dana dan segala yang kita miliki. Oleh sebab itu, manakala kita melaksanakan tugas dakwah dan orang yang kita dakwahkan menjadi baik, maka pahala kebaikannya akan kita dapatkan juga, Rasulullah saw bersabda:

Barangsiapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Tirmudzi).



Dalam suasana dan keadaan kehidupan diri, keluarga dan masyarakat kita sekarang, nilai-nilai pelajaran yang begitu banyak dari para Nabi menjadi amat penting untuk kita gali dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari supaya perjalanan hidup kita selalu dalam kebaikan dan kebenaran.

Dalam pada itu, sejauh manakah minat dan hasrat kita sebagai ibubapa untuk menghantar anak-anak ke sekolah agama yang dikelolakan oleh kerajaan negeri yang lengkap dengan mata pelajaran yang bercorak agama dan bahasa arab serta tidak ketinggalan dari sudut akademik. Apa yang dipelajari oleh anak-anak kita ini melayakkan mereka untuk melanjutkan pengajian ke peringkat yang lebih tinggi dalam pelbagai jurusan sama ada di dalam atau di luar negeri. Apa yang lebih diharapkan ialah anak-anak ini akan dapat memberikan sumbangan yang lebih bernilai untuk agama dan menjamin asuhan akhlak dan disiplin mereka, insya-allah

Oleh yang demikian, marilah kita sama-sama menjadikan hari raya aidiladha pada hari ini sebagai satu proses untuk kita melangkah ke hadapan di dalam memantapkan keimanan dan keatqwaan kita kepada Allah swt. Biarlah darah-darah binatang korban yang kita alirkan pada hari ini menjadi saksi bahawa kita adalah insan-insan yang taat dan menjunjung segala perintah Allah swt. Sesungguhnya kehidupan ini terlalu singkat untuk kita sia-siakan. Perlulah diingat bahawa perjalanan hidup ini sebenarnya menuju kepada detik kematian, dan kita semua pasti akan dibangkitkan semula pada hari kiamat untuk menerima pembalasan daripada Allah.